Senin, 16 Maret 2009
Awal Mula KEP di Bogor
Perkembangan program Evangelisasi di Indonesia memang sudah berjalan lebih dari 20 tahun, yang dimulai dengan dibentuknya Sekolah Evangelisasi Shekinah di Jakarta pada tahun 1988. Sedangkan di Keuskupan Bogor, yang merupakan tetangga terdekat dari Keuskupan Agung Jakarta, Sekolah Evangelisasi Pribadi (SEP) sebenarnya telah dimulai pada tahun 1994 di Bogor, dan juga di Paroki St. Petrus Sukabumi. Tapi keduanya cuma jalan satu angkatan, dan setelah itu mati suri.
Kegiatan evangelisasi di Keuskupan Bogor, baru bangkit kembali pada tahun 2000 dengan diselenggarakannya SEP angkatan ke 2 yang dilaksanakan oleh BPK PKK Keuskupan Bogor di Kampus STIE Triguna Bogor. Dan hasil penyaringan dari peserta SEP ini beserta dengan alumni SEP Shekinah yang berdomisili di Keuskupan Bogor, maka BPK PKK Keuskupan Bogor menyelenggarakan trainer’s course untuk menyiapkan team pengajar ME Keuskupan Bogor, sehingga dalam menjalankan program evangelisasi selanjutnya Keuskupan Bogor tidak tergantung pada pengajar dari Jakarta.
Dari hasil TC angkatan pertama, yang dibimbing oleh pengajar dari Shekinah Jakarta, sebelas orang dinyatakan lulus sebagai pengajar ME. Ditambah dengan dua orang pengajar ME yang sudah ada di Bogor, yaitu Achsen Gumelar (Paroki Katedral) dan Eko Partono (Paroki Cinere), maka Keuskupan Bogor memiliki 13 orang pengajar ME yang siap diberdayakan untuk mengembangkan program evangelisasi.
Hal yang unik terjadi, karena empat orang pengajar hasil TC angkatan pertama ini memulai tugasnya justru bukan di Bogor, tetapi di kota Semarang. Hal tersebut terjadi karena salah satu paroki di Semarang yang akan menyelenggarakan ME meminta bantuan BPKPKK Keuskupan Bogor, yang waktu itu dikoordinir oleh Achsen Gumelar. Selama lima minggu berturut-turut setiap akhir pekan, team pengajar SEP Bogor berangkat ke Semarang dengan menggunakan satu mobil.
Pada tahun 2002, beberapa gelintir umat mulai mengusulkan untuk diselenggarakannya KEP di beberapa paroki di Keuskupan Bogor. Ternyata empat paroki memberi respon positip, sehingga tahun itu dapat diselenggarakan KEP di Paroki Katedral, St. Fransiskus Sukasari, St. Yohanes Baptista Parung dan St. Matias Cinere. Kecuali paroki Cinere yang masih menggunakan pengajar KEP dari Shekinah Jakarta, ke tiga paroki lainnya ditangani oleh para pengajar KEP Keuskupan Bogor. Walaupun saat itu, pihak hirarki paroki belum memberikan dukungan sepenuhnya, KEP tersebut dapat berjalan dengan baik dan lancar. Yang hebat adalah dukungan langsung dari Uskup Bogor Mgr. Michael Cosmas Angkur; beliau selalu menyempatkan diri untuk mengutus para peserta SEP / KEP dengan memberikan penumpangan tangan langsung, pada setiap akhir retret pengutusan.
Perkembangan KEP di Paroki
Sejak KEP angkatan pertama bergulir, maka di ke-empat paroki tersebut KEP dapat berjalan terus. Rata-rata setelah dua angkatan, dan Pastor Paroki mulai melihat buah-buahnya, barulah ada dukungan penuh dari pihak Paroki.
KEP di Paroki Parung memang hanya berlangsung sampai tiga angkatan, dan belum ada kegiatan lagi sampai saat ini. Tetapi di Katedral, Sukasari, dan Cinere, KEP berjalan lancar setiap tahun, dan pada tahun 2009 ini akan diselenggarakan KEP angkatan ke-8. Bahkan di Paroki Katedral mulai angkatan ke-4, telah diselenggarakan dua kelas paralel, yaitu kelas pagi dan kelas malam.
Beberapa paroki lain pun mulai tertarik untuk menyelenggarakan KEP pada tahun-tahun selanjutnya. Misalnya Kota Wisata mulai menyelenggarakan KEP pada tahun 2006, padahal waktu itu belum resmi menjadi suatu Paroki. Dan kini setelah resmi menjadi Paroki Yohanes Berchmann, Kota Wisata telah memasuki angkatan ke-4. Salah satu paroki di Depok pun telah turut menyelenggarakan KEP pada tahun 2007.
Salah satu paroki yang paling jauh dari Bogor pun, yaitu Paroki Kristus Raja Serang telah menyelenggarakan KEP sejak tahun 2007, dan akan memasuki angkatan ke-3 pada pertengahan tahun 2009. KEP di Paroki ini cukup unik, karena angkatan ke-1 dan ke-2 lebih diutamakan dan diwajibkan untuk para aktivis Gereja. Dengan dukungan penuh dari Rm. Jimmy Rampengan, Pr., selalu Pastor Paroki, maka ke dua angkatan dengan peserta sekitar 60 orang masing-masing angkatan, dapat berjalan dengan baik. Alumni KEP pun langsung diberi tugas untuk mendampingi berbagai aktivitas yang ada di Gereja.
Retret KEP angkatan ke-2 Serang, baru saja diselenggarakan pada tanggal 23 sampai 25 Januari 2009 bertempat di Lembah Karmel Cikanyere. Retret dibimbing oleh Rm. Sumardiyo, Pr., D. Agus Goenawan, dan T. Alen, dengan materi SHDR. Yang unik juga dari paroki ini adalah alumni KEP angkatan pertama juga ikut retret, dan untuk mereka diberikan Retret Pertumbuhan. Pengutusan dilakukan langsung oleh Mgr. Michael Cosmas Angkur kepada sekitar 60 alumni.
Rm. Jimmy, selaku Pastor Kepala Paroki Serang, sangat berterimakasih pada para alumni KEP angkatan pertama yang sebagian besar telah turut berperan serta sebagai panitia pada saat upacara pentahbisan empat imam pada hari Senin tanggal 8 Desember 2008, yang juga dihadiri oleh Uskup Bogor dan Duta Besar Vatican : Mgr. Leopoldo Pirelli. Pada saat bersamaan juga dilakukan peresmian Gedung Paroki yang baru oleh Gubernur Banten, Hj. Ratu Atut.
Kegiatan evangelisasi di Keuskupan Bogor, baru bangkit kembali pada tahun 2000 dengan diselenggarakannya SEP angkatan ke 2 yang dilaksanakan oleh BPK PKK Keuskupan Bogor di Kampus STIE Triguna Bogor. Dan hasil penyaringan dari peserta SEP ini beserta dengan alumni SEP Shekinah yang berdomisili di Keuskupan Bogor, maka BPK PKK Keuskupan Bogor menyelenggarakan trainer’s course untuk menyiapkan team pengajar ME Keuskupan Bogor, sehingga dalam menjalankan program evangelisasi selanjutnya Keuskupan Bogor tidak tergantung pada pengajar dari Jakarta.
Dari hasil TC angkatan pertama, yang dibimbing oleh pengajar dari Shekinah Jakarta, sebelas orang dinyatakan lulus sebagai pengajar ME. Ditambah dengan dua orang pengajar ME yang sudah ada di Bogor, yaitu Achsen Gumelar (Paroki Katedral) dan Eko Partono (Paroki Cinere), maka Keuskupan Bogor memiliki 13 orang pengajar ME yang siap diberdayakan untuk mengembangkan program evangelisasi.
Hal yang unik terjadi, karena empat orang pengajar hasil TC angkatan pertama ini memulai tugasnya justru bukan di Bogor, tetapi di kota Semarang. Hal tersebut terjadi karena salah satu paroki di Semarang yang akan menyelenggarakan ME meminta bantuan BPKPKK Keuskupan Bogor, yang waktu itu dikoordinir oleh Achsen Gumelar. Selama lima minggu berturut-turut setiap akhir pekan, team pengajar SEP Bogor berangkat ke Semarang dengan menggunakan satu mobil.
Pada tahun 2002, beberapa gelintir umat mulai mengusulkan untuk diselenggarakannya KEP di beberapa paroki di Keuskupan Bogor. Ternyata empat paroki memberi respon positip, sehingga tahun itu dapat diselenggarakan KEP di Paroki Katedral, St. Fransiskus Sukasari, St. Yohanes Baptista Parung dan St. Matias Cinere. Kecuali paroki Cinere yang masih menggunakan pengajar KEP dari Shekinah Jakarta, ke tiga paroki lainnya ditangani oleh para pengajar KEP Keuskupan Bogor. Walaupun saat itu, pihak hirarki paroki belum memberikan dukungan sepenuhnya, KEP tersebut dapat berjalan dengan baik dan lancar. Yang hebat adalah dukungan langsung dari Uskup Bogor Mgr. Michael Cosmas Angkur; beliau selalu menyempatkan diri untuk mengutus para peserta SEP / KEP dengan memberikan penumpangan tangan langsung, pada setiap akhir retret pengutusan.
Perkembangan KEP di Paroki
Sejak KEP angkatan pertama bergulir, maka di ke-empat paroki tersebut KEP dapat berjalan terus. Rata-rata setelah dua angkatan, dan Pastor Paroki mulai melihat buah-buahnya, barulah ada dukungan penuh dari pihak Paroki.
KEP di Paroki Parung memang hanya berlangsung sampai tiga angkatan, dan belum ada kegiatan lagi sampai saat ini. Tetapi di Katedral, Sukasari, dan Cinere, KEP berjalan lancar setiap tahun, dan pada tahun 2009 ini akan diselenggarakan KEP angkatan ke-8. Bahkan di Paroki Katedral mulai angkatan ke-4, telah diselenggarakan dua kelas paralel, yaitu kelas pagi dan kelas malam.
Beberapa paroki lain pun mulai tertarik untuk menyelenggarakan KEP pada tahun-tahun selanjutnya. Misalnya Kota Wisata mulai menyelenggarakan KEP pada tahun 2006, padahal waktu itu belum resmi menjadi suatu Paroki. Dan kini setelah resmi menjadi Paroki Yohanes Berchmann, Kota Wisata telah memasuki angkatan ke-4. Salah satu paroki di Depok pun telah turut menyelenggarakan KEP pada tahun 2007.
Salah satu paroki yang paling jauh dari Bogor pun, yaitu Paroki Kristus Raja Serang telah menyelenggarakan KEP sejak tahun 2007, dan akan memasuki angkatan ke-3 pada pertengahan tahun 2009. KEP di Paroki ini cukup unik, karena angkatan ke-1 dan ke-2 lebih diutamakan dan diwajibkan untuk para aktivis Gereja. Dengan dukungan penuh dari Rm. Jimmy Rampengan, Pr., selalu Pastor Paroki, maka ke dua angkatan dengan peserta sekitar 60 orang masing-masing angkatan, dapat berjalan dengan baik. Alumni KEP pun langsung diberi tugas untuk mendampingi berbagai aktivitas yang ada di Gereja.
Retret KEP angkatan ke-2 Serang, baru saja diselenggarakan pada tanggal 23 sampai 25 Januari 2009 bertempat di Lembah Karmel Cikanyere. Retret dibimbing oleh Rm. Sumardiyo, Pr., D. Agus Goenawan, dan T. Alen, dengan materi SHDR. Yang unik juga dari paroki ini adalah alumni KEP angkatan pertama juga ikut retret, dan untuk mereka diberikan Retret Pertumbuhan. Pengutusan dilakukan langsung oleh Mgr. Michael Cosmas Angkur kepada sekitar 60 alumni.
Rm. Jimmy, selaku Pastor Kepala Paroki Serang, sangat berterimakasih pada para alumni KEP angkatan pertama yang sebagian besar telah turut berperan serta sebagai panitia pada saat upacara pentahbisan empat imam pada hari Senin tanggal 8 Desember 2008, yang juga dihadiri oleh Uskup Bogor dan Duta Besar Vatican : Mgr. Leopoldo Pirelli. Pada saat bersamaan juga dilakukan peresmian Gedung Paroki yang baru oleh Gubernur Banten, Hj. Ratu Atut.
Apa Itu KEP ?
(http://www.santamaria.or.id/liputan_khusus/apa_itu_kep)
Belakangan ini kita semakin terbiasa mendengar KEP, KEP dan KEP. Apakah itu KEP sebenarnya? Oleh dan untuk siapakah KEP itu? KEP adalah singkatan dari Kelas Evangelisasi Pribadi Awal mula terbentuknya KEP adalah suatu hasrat akan pendalaman penginjilan Katolik.
Buku Misi Evangelisasi diperkenalkan untuk pertama kalinya kepada keluarga pembaharuan karismatik katolik oleh Rm. L. Sugiri van den Heuvel SJ, setelah beliau sendiri mengikuti kursus tersebut di Amerika pada tahun 1986. Kala itu beliau bertugas sebagai Moderator Pembaharuan Karismatik Katolik KAJ. Sekembalinya ke Jakarta, beliau membentuk team untuk menerjemahkan materi kursus ke dalam bahasa Indonesia. Pada tahun 1988 dimulailah Sekolah Evangelisasi Pribadi (SEP) angkatan pertama di Gedung Shekinah, yang diselenggarakan 3 kali seminggu selama 4 bulan penuh. Kata "pribadi" bermaksud menerangkan bahwa sekolah ini ingin mempersiapkan para peserta untuk menjadi orang yang pertama-tama belajar menginjili diri sendiri terlebih dahulu dan kemudian berbagi Kabar Baik dengan sesama secara orang per orang "person to person" atau "face to face", BUKAN untuk menjadi guru agama atau pewarta mimbar (pengkotbah).
Sejak tahun 1990 SEP Shekinah melayani juga permintaan serupa dari paroki-paroki di KAJ dan di Keuskupan lain seperti Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Padang,
Palembang, Makasar, Pontianak, Flores. Sampai tahun 2008 ini SEP Shekinah telah bekerja sama dengan 46 paroki di KAJ yang pada umumnya menyelenggarakan Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) secara teratur setahun sekali. Dalam kerja sama ini SEP Shekinah diberi kepercayaan untuk:
- Menyediakan materi pengajaran.
- Mengutus tenaga-tenaga pengajar.
- Mendampingi Retret Pengutusan.
- Bersama panitia setempat melaksanakan evaluasi dan merundingkan kelulusan peserta.
- Mengeluarkan sertifikat kelulusan.
Visi dan Misi KEP SHEKINAH
VISI :
Mengambil bagian dalam tugas dan panggilan Gereja untuk mengembangkan dan menggiatkan kerasulan awam, dengan orientasi pada penginjilan, pengudusan dan pembaharuan tata dunia.
MISI :
Menyediakan kursus-kursus pembinaan kerasulan awam, guna memperdalam wawasan dan semangat umat sebagai pembawa Kabar Baik bagi diri sendiri dan bagi sesama. Membantu peserta kursus dan umat yang dilayani untuk mengalami pendalaman hidup doa, Sabda Tuhan, sakramen-sakramen dan kesaksian hidup kristiani yang otentik, sehingga dapat turut serta menghidupi persekutuan umat beriman dan pelayanan-pelayanan dalam kuasa Roh Kudus.
Materi dan Kurikulum
Program ini meliputi materi pelajaran sebagai MISI EVANGELISASI, yaitu:
1. Introduksi
2. Apa itu Evangelisasi?
3. Perkembangan Iman
4. Kerajaan Allah & Keselamatan
5. Berteman
6. Sharing Iman
7. Kisah Kristus & Penyajian Injil
8. Ajakan Bertobat
9. Integrasi ke Dalam Komunitas
10.Orientasi Kunjungan Rumah
11. Evaluasi Kunjungan Rumah
Kursus evangelisasi pribadi atau biasa disingkat dengan KEP adalah salah satu sarana yang dapat dipakai untuk menjawab kebutuhan Gereja akan pemberdayaan dan pengembangan kerasulan awam yang berorientasi pada penginjilan, pengudusan dan pembaharuan tata dunia (Dekrit Kerasulan Awam No 2 & 6 tentang misi Gereja).
Apa tujuan KEP ?
KEP bertujuan pertama-tama membantu perserta kursus dan umat yang dilayani untuk mengalami pendalaman hidup doa, firman Tuhan, kecintaan akan Sakramen-sakramen Gereja, pengertian akan ajaran-ajaran Gereja Katolik (Dogma) serta cara penyampaian kesaksian hidup kristiani yang otentik.
Kedua, KEP mempersiapkan peserta untuk menjadi orang yang pertama-tama belajar menginjil diri sendiri baru kemudian berbagi kabar baik dengan sesama secara person to person (orang per orang), bukan menjadi perwarta mimbar atau guru agama.
Ketiga, KEP memperdalam wawasan dan menambah semangat umat sebagai pembawa kabar baik bagi diri sendiri dan sesama.
Mereka yang telah mengikuti KEP akan disebut "Evangelizer" yaitu orang yang membawa kabar gembira dengan cara memberi kesaksian, yaitu mensharingkan (membagikan) pengalamannya ketika secara pribadi dihidupi dan dijiwai Sabda Allah. Tapi patut dicatat bahwa Evangelizer tidak "menginjili" sesama.
(Dari berbagai sumber-Andre)
Belakangan ini kita semakin terbiasa mendengar KEP, KEP dan KEP. Apakah itu KEP sebenarnya? Oleh dan untuk siapakah KEP itu? KEP adalah singkatan dari Kelas Evangelisasi Pribadi Awal mula terbentuknya KEP adalah suatu hasrat akan pendalaman penginjilan Katolik.
Buku Misi Evangelisasi diperkenalkan untuk pertama kalinya kepada keluarga pembaharuan karismatik katolik oleh Rm. L. Sugiri van den Heuvel SJ, setelah beliau sendiri mengikuti kursus tersebut di Amerika pada tahun 1986. Kala itu beliau bertugas sebagai Moderator Pembaharuan Karismatik Katolik KAJ. Sekembalinya ke Jakarta, beliau membentuk team untuk menerjemahkan materi kursus ke dalam bahasa Indonesia. Pada tahun 1988 dimulailah Sekolah Evangelisasi Pribadi (SEP) angkatan pertama di Gedung Shekinah, yang diselenggarakan 3 kali seminggu selama 4 bulan penuh. Kata "pribadi" bermaksud menerangkan bahwa sekolah ini ingin mempersiapkan para peserta untuk menjadi orang yang pertama-tama belajar menginjili diri sendiri terlebih dahulu dan kemudian berbagi Kabar Baik dengan sesama secara orang per orang "person to person" atau "face to face", BUKAN untuk menjadi guru agama atau pewarta mimbar (pengkotbah).
Sejak tahun 1990 SEP Shekinah melayani juga permintaan serupa dari paroki-paroki di KAJ dan di Keuskupan lain seperti Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Padang,
Palembang, Makasar, Pontianak, Flores. Sampai tahun 2008 ini SEP Shekinah telah bekerja sama dengan 46 paroki di KAJ yang pada umumnya menyelenggarakan Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) secara teratur setahun sekali. Dalam kerja sama ini SEP Shekinah diberi kepercayaan untuk:
- Menyediakan materi pengajaran.
- Mengutus tenaga-tenaga pengajar.
- Mendampingi Retret Pengutusan.
- Bersama panitia setempat melaksanakan evaluasi dan merundingkan kelulusan peserta.
- Mengeluarkan sertifikat kelulusan.
Visi dan Misi KEP SHEKINAH
VISI :
Mengambil bagian dalam tugas dan panggilan Gereja untuk mengembangkan dan menggiatkan kerasulan awam, dengan orientasi pada penginjilan, pengudusan dan pembaharuan tata dunia.
MISI :
Menyediakan kursus-kursus pembinaan kerasulan awam, guna memperdalam wawasan dan semangat umat sebagai pembawa Kabar Baik bagi diri sendiri dan bagi sesama. Membantu peserta kursus dan umat yang dilayani untuk mengalami pendalaman hidup doa, Sabda Tuhan, sakramen-sakramen dan kesaksian hidup kristiani yang otentik, sehingga dapat turut serta menghidupi persekutuan umat beriman dan pelayanan-pelayanan dalam kuasa Roh Kudus.
Materi dan Kurikulum
Program ini meliputi materi pelajaran sebagai MISI EVANGELISASI, yaitu:
1. Introduksi
2. Apa itu Evangelisasi?
3. Perkembangan Iman
4. Kerajaan Allah & Keselamatan
5. Berteman
6. Sharing Iman
7. Kisah Kristus & Penyajian Injil
8. Ajakan Bertobat
9. Integrasi ke Dalam Komunitas
10.Orientasi Kunjungan Rumah
11. Evaluasi Kunjungan Rumah
Kursus evangelisasi pribadi atau biasa disingkat dengan KEP adalah salah satu sarana yang dapat dipakai untuk menjawab kebutuhan Gereja akan pemberdayaan dan pengembangan kerasulan awam yang berorientasi pada penginjilan, pengudusan dan pembaharuan tata dunia (Dekrit Kerasulan Awam No 2 & 6 tentang misi Gereja).
Apa tujuan KEP ?
KEP bertujuan pertama-tama membantu perserta kursus dan umat yang dilayani untuk mengalami pendalaman hidup doa, firman Tuhan, kecintaan akan Sakramen-sakramen Gereja, pengertian akan ajaran-ajaran Gereja Katolik (Dogma) serta cara penyampaian kesaksian hidup kristiani yang otentik.
Kedua, KEP mempersiapkan peserta untuk menjadi orang yang pertama-tama belajar menginjil diri sendiri baru kemudian berbagi kabar baik dengan sesama secara person to person (orang per orang), bukan menjadi perwarta mimbar atau guru agama.
Ketiga, KEP memperdalam wawasan dan menambah semangat umat sebagai pembawa kabar baik bagi diri sendiri dan sesama.
Mereka yang telah mengikuti KEP akan disebut "Evangelizer" yaitu orang yang membawa kabar gembira dengan cara memberi kesaksian, yaitu mensharingkan (membagikan) pengalamannya ketika secara pribadi dihidupi dan dijiwai Sabda Allah. Tapi patut dicatat bahwa Evangelizer tidak "menginjili" sesama.
(Dari berbagai sumber-Andre)
Rabu, 05 November 2008
The 7 Ups !
1. Wake Up !!
Decide to have a good day.
'This is the day the Lord hath made;
let us rejoice and be glad in it.'
Psalms 118:24
2. Dress Up !!
The best way to dress up is to put on a smile.
A smile is an inexpensive way to improve your looks.
'The Lord does not look at the things man looks at.
Man looks at outward appearance,
but the Lord looks at the heart.'
I Samuel 16:7
3. Shut Up!!
Say nice things and learn to listen.
God gave us two ears and one mouth,
so He must have meant for us to do twice as much listening as talking.
'He who guards his lips guards his soul.'
Proverbs 13:3
4. Stand Up!!
. . . for what you believe in.
Stand for something or you will fall for anything.
'Let us not be weary in doing good; for at the proper time,
we will reap a harvest if we do not give up.
Therefore, as we have opportunity, let us do good...'
Galatians 6:9-10
5. Look Up !!
. . . to the Lord.
'I can do everything through Christ who strengthens me'.
Philippians 4:13
6. Reach Up !!
. . . for something higher.
'Trust in the Lord with all your heart,
and lean not unto your own understanding.
In all your ways, acknowledge Him, and He will direct your path.'
Proverbs 3:5-6
7. Lift Up !!
. . . your Prayers.
'Do not worry about anything; instead
PRAY ABOUT EVERYTHING.'
Philippians 4:6
Kamis, 02 Oktober 2008
Kebersamaan di Pelabuhan Ratu
Pada saat libur Lebaran dan tidak ada acara persekutuan doa, maka kami para pelayan PDPKK St Maria Fatima mengadakan suatu acara untuk menjalin kebersamaan di antara para pelayan beserta dengan keluarga masing-masing. Rencana semula acara akan dilakukan dengan berziarah ke Gereja Subang, tetapi kemudian diubah menjadi rekreasi ke Pelabuhan Ratu, karena salah seorang rekan kami (pak Harsono) memiliki rumah yang dapat digunakan untuk berkumpul selama berekreasi disana.
Pada tanggal 1 Oktober 2008, hari pertama Lebaran, rombongan pertama yang terdiri dari 4 mobil berangkat jam 6.20 dari SMKK Baranang Siang. Ternyata perjalanan sangat lancar, melalui jalan Cikijang yang berkelok-kelok, turun naik di jalan kecil, kami sampai di Pelabuhan Ratu sekitar jam 9.00. Di lokasi kami segera sarapan dengan bekal yang dibawa dari Bogor : nasi, tahu, lalap (termasuk pete), rendang, ikan asin, sambel, dll., sambil menikmati air kelapa muda yang langsung dipetik dari pohon di depan rumah.
Setelah itu anak-anak yang sudah tidak tahan melihat pantai, segera berjalan ke seberang jalan menuju pantai. Ternyata walau hari baru jam 10, pasir laut sudah sangat panas sekali, sehingga anak-anak terpaksa menggunakan sandal, yang baru dilepas setelah dekat air laut. Bermain ombak, yang merupakan pengalaman pertama bagi beberapa anak, sungguh sangat menyenangkan. Panas matahari tidak dihiraukan, pokoknya bermain pasir dan berlari menyongsong air laut dengan ombak yang tidak terlalu besar.
Sekitar jam 11, ketika rombongan kedua yang terdiri dari 2 mobil tiba, kami pun kembali ke base camp. Setelah itu kami bersiap berangkat ke Samudra Beach Hotel, tetapi sebelumnya mampir dulu ke tempat pelelangang ikan untuk membeli ikan bagi makan siang / sore, setelah acara jalan-jalan selesai. Ikan yang telah dibeli dibawa oleh bapak pengurus rumah, untuk dimasak, sehingga siap waktu kami pulang nanti.
Di pantai Samudra Beach, anak-anak kembali berenang dan bermain pasir. Setelah itu mereka berenang di kolam renang Samudra Beach Hotel. Anak saya, Anggun, mengatakan bahwa ia sebenarnya lebih senang berenang sambil bermain ombak di pantai, daripada hanya di kolam renang.
Sekitar jam 13 lewat, kami melanjutkan perjalanan ke Karang Hawu. Disini kami dapat berbelanja ikan asin, sawo dll., termasuk juga menikmati minuman dan mie baso. Tidak lama disini kami terus menuju Cisolok, tempat sumber air panas. Di Cisolok, kami dapat berendam air panas (sekali) di sungai yang berbau belerang, atau dapat juga berenang di kolah renang yang tersedia dengan membayar biaya masuk Rp. 2000,- per orang.
Saya sendiri memilih berendam di kamar mandi secara pribadi. Dengan biaya Rp. 10.000. sepuasnya, saya dapat menikmati air yang sangat panas. Saya memilih berendam, karena otot pinggang sekitar punggung sedang sakit dan kaku. Setelah memaksakan berendam sekitar 20 menit, ternyata panasnya terus mengalir, sehingga setelah mandi badan terus bercucuran keringat (memang suasana jam 15 waktu itu juga cukup panas). Waktu berjalan ke mobil, ternyata badan terasa sangat capai, lapar dan haus, karena rupanya energi terkuras waktu berendam di air panas.
Dari Cisolok, kami segera kembali ke base camp untuk makan ikan bakar yang tadi dibeli di pelelangan. Sampai tempat ternyata ikan bakar sudah siap, dan mengundang selera teman-teman yang memang sudah lapar. Ikan sebanyak 8 kg dan udang sekitar 3 kg hampir tandas disikat oleh sekitar 35 orang (beserta dengan anak-anak).
Waktu bersiap-siap pulang, ternyata datang rombongan Pak Kawi dan keluarga serta ibu Loan dari Vila Duta, yang sedang menginap di Pelabuhan Ratu. Setelah ngobrol beberapa saat, maka rombongan kami segera pulang ke Bogor pada sekitar jam 17.45. Dengan melalui jalan lewat Cibadak, maka sekitar jam 20.45 kami sudah keluar tol Bogor, dan segera kembali ke rumah masing-masing.
Semoga acara hari ini membangun kebersamaan di antara para pelayan PDPKK Santa Maria Fatima beserta dengan keluarga. Bagi para pelayan yang berhalangan ikut, nanti kita atur acara selanjutnya, mungkin akhir tahun atau lebaran tahun depan. GBU.
Pada tanggal 1 Oktober 2008, hari pertama Lebaran, rombongan pertama yang terdiri dari 4 mobil berangkat jam 6.20 dari SMKK Baranang Siang. Ternyata perjalanan sangat lancar, melalui jalan Cikijang yang berkelok-kelok, turun naik di jalan kecil, kami sampai di Pelabuhan Ratu sekitar jam 9.00. Di lokasi kami segera sarapan dengan bekal yang dibawa dari Bogor : nasi, tahu, lalap (termasuk pete), rendang, ikan asin, sambel, dll., sambil menikmati air kelapa muda yang langsung dipetik dari pohon di depan rumah.
Setelah itu anak-anak yang sudah tidak tahan melihat pantai, segera berjalan ke seberang jalan menuju pantai. Ternyata walau hari baru jam 10, pasir laut sudah sangat panas sekali, sehingga anak-anak terpaksa menggunakan sandal, yang baru dilepas setelah dekat air laut. Bermain ombak, yang merupakan pengalaman pertama bagi beberapa anak, sungguh sangat menyenangkan. Panas matahari tidak dihiraukan, pokoknya bermain pasir dan berlari menyongsong air laut dengan ombak yang tidak terlalu besar.
Sekitar jam 11, ketika rombongan kedua yang terdiri dari 2 mobil tiba, kami pun kembali ke base camp. Setelah itu kami bersiap berangkat ke Samudra Beach Hotel, tetapi sebelumnya mampir dulu ke tempat pelelangang ikan untuk membeli ikan bagi makan siang / sore, setelah acara jalan-jalan selesai. Ikan yang telah dibeli dibawa oleh bapak pengurus rumah, untuk dimasak, sehingga siap waktu kami pulang nanti.
Di pantai Samudra Beach, anak-anak kembali berenang dan bermain pasir. Setelah itu mereka berenang di kolam renang Samudra Beach Hotel. Anak saya, Anggun, mengatakan bahwa ia sebenarnya lebih senang berenang sambil bermain ombak di pantai, daripada hanya di kolam renang.
Sekitar jam 13 lewat, kami melanjutkan perjalanan ke Karang Hawu. Disini kami dapat berbelanja ikan asin, sawo dll., termasuk juga menikmati minuman dan mie baso. Tidak lama disini kami terus menuju Cisolok, tempat sumber air panas. Di Cisolok, kami dapat berendam air panas (sekali) di sungai yang berbau belerang, atau dapat juga berenang di kolah renang yang tersedia dengan membayar biaya masuk Rp. 2000,- per orang.
Saya sendiri memilih berendam di kamar mandi secara pribadi. Dengan biaya Rp. 10.000. sepuasnya, saya dapat menikmati air yang sangat panas. Saya memilih berendam, karena otot pinggang sekitar punggung sedang sakit dan kaku. Setelah memaksakan berendam sekitar 20 menit, ternyata panasnya terus mengalir, sehingga setelah mandi badan terus bercucuran keringat (memang suasana jam 15 waktu itu juga cukup panas). Waktu berjalan ke mobil, ternyata badan terasa sangat capai, lapar dan haus, karena rupanya energi terkuras waktu berendam di air panas.
Dari Cisolok, kami segera kembali ke base camp untuk makan ikan bakar yang tadi dibeli di pelelangan. Sampai tempat ternyata ikan bakar sudah siap, dan mengundang selera teman-teman yang memang sudah lapar. Ikan sebanyak 8 kg dan udang sekitar 3 kg hampir tandas disikat oleh sekitar 35 orang (beserta dengan anak-anak).
Waktu bersiap-siap pulang, ternyata datang rombongan Pak Kawi dan keluarga serta ibu Loan dari Vila Duta, yang sedang menginap di Pelabuhan Ratu. Setelah ngobrol beberapa saat, maka rombongan kami segera pulang ke Bogor pada sekitar jam 17.45. Dengan melalui jalan lewat Cibadak, maka sekitar jam 20.45 kami sudah keluar tol Bogor, dan segera kembali ke rumah masing-masing.
Semoga acara hari ini membangun kebersamaan di antara para pelayan PDPKK Santa Maria Fatima beserta dengan keluarga. Bagi para pelayan yang berhalangan ikut, nanti kita atur acara selanjutnya, mungkin akhir tahun atau lebaran tahun depan. GBU.
Pertemuan ICCRS di Korea (2009)
Pada tahun 2009, tepatnya tanggal 1 sampai dengan 8 Juni, akan diselenggarakan Konferensi Leader Internasional di Korea Selatan. Tema yang diambil adalah ”Love in Action”.
Panitia dari Korea sudah mempersiapkan segalanya, agar seluruh peserta nanti memang dapat melakukan kasih secara nyata, karena mereka menyelenggarakannya di KKottongnae Community, tempat orang-orang cacat dan sakit yang membutuhkan pelayanan.
Bila anda berminat, segeralah bersiap diri untuk mengikuti konferensi ini. Jadwal yang disusun panitia adalah sebagai berikut :
1. June 1st Registration
2. June 2nd – 3rd Volunteer Work
3. June 3rd evening Festival of Celebration
4. June 4th – 6th Conference
5. June 7th Rally
6. June 8th – 9th Pilgrimage and Sight Seeing
Panitia dari Korea sudah mempersiapkan segalanya, agar seluruh peserta nanti memang dapat melakukan kasih secara nyata, karena mereka menyelenggarakannya di KKottongnae Community, tempat orang-orang cacat dan sakit yang membutuhkan pelayanan.
Bila anda berminat, segeralah bersiap diri untuk mengikuti konferensi ini. Jadwal yang disusun panitia adalah sebagai berikut :
1. June 1st Registration
2. June 2nd – 3rd Volunteer Work
3. June 3rd evening Festival of Celebration
4. June 4th – 6th Conference
5. June 7th Rally
6. June 8th – 9th Pilgrimage and Sight Seeing
Pelajaran dari ISAO Conference

Mengikuti konferensi Katolik Karismatik international merupakan pengalaman pertama bagi saya. Sebelumnya saya hanya pernah mengikuti dua kali Konvensi Nasional dan tiga kali Konvensi Daerah.
Dari konferensi ISAO ini banyak pelajaran yang saya peroleh. Pertama adalah sharing pengalaman mengenai pertumbuhan karismatik di berbagai negara. Di Korea ternyata sekitar 50% seminarist sudah mengikuti SHDR. Bila dibayangkan beberapa tahun lagi, pasti dampaknya luar biasa bagi perkemangan PKK di Korea.
Di beberapa negara Timur Tengah (Bahrain, Yaman, Oman, Qatar, dan Uni Emirat Arab), ternyata PKK juga mengalami pertumbuhan walaupun sebagian besar untuk para expatriate yang berasal dari Filipina, India, dan Malaysia. Di Qatar sendiri baru saja diresmikan Gereja Maria Ratu Rosariol; upacara peresmiannya, yang ditayangkan melalui video kepada seluruh peserta konferensi ISAO, berlangsung secara luar biasa.
Di Malaysia, mereka ternyata tidak memiliki BPN secara menyeluruh, tetapi terbagi dua yaitu daerah semenanjung serta Sabah dan Serawak. Ternyata menurut mereka, karena kebutuhan kedua wilayah tersebut berbeda, sehingga sulit dijadikan satu. Hal ini pun terjadi untuk para Uskup, mereka tidak memiliki Konferensi Wali Gereja secara nasional, dan juga belum memiliki Kardinal.
Kedua, para peserta diingatkan kembali mengenai asal muasal Pembaharuan Karismatik Katolik, karunia-karunia, dan kepemimpinan rohani yang dibutuhkan oleh para leader. Dengan demikian maka semua peserta mengalami penyegaran ulang sehingga siap melayani dengan lebih baik lagi.
Ketiga, tentu saja berkenalan secara pribadi dengan para leader PKK dari berbagai negara. Dari beberapa kali diskusi dan pertemuan kelompok, ternyata mereka menggunakan karisma-karisma mereka secara aktif. Waktu saling mendoakan dalam kelompok, maka kita semua berbagi mengenai ’vision’ yang didapat masing-masing terhadap orang yang sedang kita doakan. Dalam kelompok saya terdapat Mr Adrian, guru Evangelisasi dari Australia, serta seorang ibu dari Taiwan yang selalu mensharingkan ’vision’ mereka.
Semoga pelajaran dari ISAO ini membaharui semangat pelayanan kita semua, dan dapat diterapkan di persekutuan doa masing-masing. Amin.
ISAO Conference di Hotel Mercure

Setelah mengalami berbagai perubahan rencana berkali-kali, maka konferensi ISAO (ICCRS Sub-Commitee for Asia Oceania) berhasil dilaksanakan di Hotel Mercure Ancol pada tanggal 14 sampai dengan 18 September 2008.
Konferensi ini merupakan pertemuan pertama para leader karismatik katolik se Asia Pasifik, yang juga dihadiri oleh ketua ICCRS – International Catholic Charismatic Renewal Servicesm yaitu Mrs. Michelle Moran (lihat foto).
ndonesia mendapatkan kehormatan untuk menjadi tuan rumah bagi konferensi ISAO pertama ini, sedangkan yang kedua direncanakan akan diselenggarakan di Malaysia.
BPK PKK Keuskupan Bogor turut terlibat dalam penyelenggaraan konferensi ini, bersama dengan BPKPKK Jakarta dan Bandung, terutama dalam bidang liturgi, yang ditangani oleh ibu Kerny dan team, akomodasi, yang ditangani bpk Zeno dan team, serta dekorasi yang ditangani oleh Ambar cs.
Acara selama 5 hari relatif sangat padat, karena mulai dari sekitar jam 8.30 pagi dan baru selesai sekitar jam 21. Di jadwal acara bahkan tidak ada jadwal untuk istirahat siang dan mandi (seperti yang kita alami dalam retret-retret dan konvensi lokal). Total peserta yang hadir lebih dari 500 orang, dengan sekitar 300 orang dari luar negeri. Kontingen peserta dengan jumlah besar berasal dari Singapore, Malaysia, dan Korea.
Konferensi ini dihadiri oleh lebih dari tujuh orang Uskup dari Indonesia, Uni Emirat Arab, Malaysia, Singapore, Filipina. Bapak Kardinal pun berkenan datang pada hari kedua untuk memimpin misa, demikian juga dengan Duta Besar Vatican yang memimpin misa pada hari terakhir. Dengan melihat hal ini memang PKK mendapatkan dukungan besar dari Gereja Katolik, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia.
Pada hari terakhir, 18 September 2008, para peserta diboyong ke Novotel di WTC Mangga Dua, karena acara akan ditutup dengan KRK pada malam harinya, yang dihadiri oleh sekitar 7000 umat.
Langganan:
Postingan (Atom)